Nge-Bike To Pic


Inget film Yes Man, aktris Zooey Deschanel yang berperan sebagai Allison? Di film ini ia tak hanya sebagai vokalis band indie, tapi ia juga sebagai intruktur fotografi sembari lari pagi. Ia mengambil setiap momen yang dianggapnya menarik sembari berlari atau terkadang berhenti untuk mendapat fokus dari objek.

Nah, saya postingan ini terinspirasi dari film itu. Semalam saya iseng diajakin bersepeda dari Langsat hingga Bunderan HI bersama Balibul dan Mas Happy. Dengan modal sepeda dan kamera pinjeman nih, hasilnya nyampe ke BHI lalu lanjut sahur di Sabang.

Jalan pintas

 pak, numpang jepret pak...
nongkrong di trotoar, jarang-jarang

istirahat
 
Selama di jalan, banyak sekali momen yang sebenarnya bagus untuk di abadikan. Seperti lengangnya Jakarta, pekerja jalan yang masih beraktifitas, 'kupu-kupu malam' yang masih beterbangan di Bulan Ramadan hingga pawai di waktu sahur.

Dari sekian banyak jepretan yang saya ambil, hampir semuanya ngga fokus dan jelek secara teknis. Sengaja, namanya juga buat seru-seruan. Next time moga bisa seru-seruan lagi di tempat yang berbeda dengan suasana yang beda!

Memotretlah Dalam Gelap


Dari beberapa mentor fotografi, mereka bilang bahwa dasar fotografi itu pencahayaan. Memahami dari mana arah cahaya datang dan seberapa besar intensitasnya. Boleh percaya atau tidak, itu pelajaran dasar yang saya dapatkan.Yap, coba deh amati kalo kalian sempat hunting sama fotografer beneran, mereka pasti ngga asal. Pasti selalu ada ritual yang khas, mengamati ngeliat kondisi sekitar dengan seksama.

Setelah pencahayaan, barulah pengaturan bukaan dan shutter speed. Misal dengan cahaya seperti ini, berapa bukaan dan kecepatan yang sesuai. Ini penting juga, karena jika sembarang cahaya yang tertangkap bisa terlalu banyak atau sebaliknya.

Sebagai contoh foto di atas, itu cahayanya jelas dari mana arahnya. Kita ngga perlu lagi menggunakan flash, pengaturan di bukaan dan kecepatan. Berbeda dengan foto di bawah ini. Ini foto diambil di dalam ruangan. Tanpa bantuan pencahayaan tambahan, serta pengaturan yang tidak tepat, hasilnya foto nampak kurang cahaya.

Benteng Van Der Wijk

Mungkin karena saking pentingnya pencahayaan, ada beberapa orang yang manja. Sedikit-sedikit kalo motret mesti pake flash. Gelap sedikit aja itu flash langsung diaktifin. Padahal dengan sedikit cahaya, kita bisa membuat foto nampak lebih dramatis. Tinggal sedikit pengaturan di bukaan dan kecepatan aja, hasilnya mesti ciamik.

Contoh, foto kameramen di bawah ini. Ini saya foto di dalem Goa, waktu itu sedang take untuk acara petualangan. Atau foto abdi keraton yang sedang membisikkan sesuatu. Waktu itu saya mencoba mengambil efek cahaya dari perapian tungku di samping kanannya.


Goa Jomblang

 Abdi Keraton

 Teater Garasi, Taman Budaya Yogyakarta
 
Model Hesti.

Akhirnya, jika pencahayaan di tempat gelap sudah dikuasai, memotret di tempat yang terang atau studio menjadi sesuatu yang mudah. Percaya deh! :D

Foto Bareng Sinta Keong Racun

Ketika beberapa hari yang lalu saya ngetwit bilang kalo @wedwedwed poto bareng Sinta 'Jojo Sinta Keong Racun', banyak mention yg menanyakan apakah itu Sinta beneran. Dan waktu itu memang dibikin seolah-olah itu Sinta beneran. Percaya atau ngga, banyak yang percaya. Saya yang aplod ini foto dan motretnya pake mekbuk cuman senyam-senyum aja. Karena saya tau ini cuman rekayasa, skenario aja.

Ya, memang diskenariokan mirip Sinta. Rambut digerai-gerai biar nambah mirip. Angle fotonya juga nyari yang pas yang lebih mirip dengan si Sinta. Mimik muka, senyumnya juga dibikin. Dan jepret deh...

Hanung Bramantyo pas workshop Indie Movie tahun lalu bilang, "Semua yang ada di depan kamera itu bisa direkayasa...". Dan ini salah satu contohnya. Dimana saya seolah-olah memaksakan kepada yang ngeliat ini foto bahwa ini Sinta. Lalu kalau ada yang termakan dengan insepsi saya gimana?

Sebenernya tulisan ini buat edukasi. Jangan mudah percaya dengan sesuatu foto ataupun film. Foto bisa berjuta makna. Film, endingnya pun bisa berbeda persepsi. Jadi hati-hati. Itu aja sih :D