Friday, January 29, 2016

CROSS|OVER Final National Camp

Nusa Dua, Bali

Beberapa waktu yang lalu, gw berkesempatan untuk mengikuti CROSS Over Final National Camp yang berlangsung di Nusa Dua, Bali. Acara berlangsung selama 3 hari 2 malam bersama para finalis CROSS|OVER. Dari ribuan peserta yang mendaftar dan berpartisipasi CROSS|OVER, terpilih finalis yang berjumlah 25 orang dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, Bandung, Jogjakarta, Surabaya, Medan, Makassar dan Denpasar. Dari 25 finalis ini, nantinya akan dilakukan seleksi kembali dengan interview selama camp untuk menentukan siapa 10 pemenang yang akan jalan-jalan gratis ke California, Alaska dan Canada selama 17 hari.

Friday, January 01, 2016

Thank You 2015!

Banyak hal terjadi di 2015. Mulai dari keputusan gw untuk pindah Jakarta, meninggalkan Jogja setelah 13 tahun lamanya tinggal di Jogja. Terlibat dalam pembuatan film 3 Srikandi yang berlangsung beberapa bulan persiapan hingga akhirnya syuting. Dan traveling bersama para traveler yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata.

Yang gw sebut di atas, hampir merangkum semua, highlightnya saja memang. Bertemu dengan banyak orang-orang baru dan pengalaman baru yang menyenangkan.

Untuk 2016, gw ga sabar untuk pengalaman-pengalaman seru lainnya. Lebih banyak ketemu orang baru di pekerjaan, hobi dan traveling. Lebih energetic dan sehat wal afiat. Lebih banyak karya yang dihasilkan. Insya Allah.

Dan sebagai bentuk terimakasih gw untuk semua yang telah mengisi hari-hari gw di 2015, ini ada video yang merangkum semua selama 2015. Enjoy!


Thanks to Ministry of Tourism Republic of Indonesia. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat. Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara. Yonif 321/Galuh Taruna Kostrad. Yonif 403/Wirasada Pratista. Skadron Udara 2. Astra International Tbk. Fotografer.net. Multivision Plus. 360 Synergy Production. Creo Indonesia. Letkol Inf Agus Widiyanto. Letkol Inf Pieter Ardianto. Letkol Pnb Destianto Nugroho Utomo. Finalis Putri Indonesia 2004. Kristupa Saragih. Iman Brotoseno. Ninin Musa. Chelsea Islan. Dian Sastro. Tara Basro. Reza Rahadian. Ravindra Boele. Nila Tanzil. M Fikri. Nicole Fung. Hanny Kusumawati. A World to Travel (Jose & Inma). CC Food Travel (Jo & Umei). Charlene Tan. Carla Manalo. Trinity Traveler. Marischa Prudence. Astrid Permata Leona. Gracetantina Rohdearni. Elsa Fransisca Purba. Atika Noerkoestanti. Windy Ariestanty. Claudy Anadia Herid. Claradevi Hadriatmaja. Ajeng Ayu Anglaina. Ivan Loviano. Ermawan Ridyantoro. Widiartono. Elsa Stars and Rabbit. Riyani Djangkaru. Gemala Hanafiah. Pinneng. Barry Kusuma. Driana Rini Handayani. Dayu Hatmanti. Lala Karmela.

Saturday, December 26, 2015

Trip ke Lombok Timur, Mengunjungi Peraih Apresiasi SATU Indonesia Awards

Potret siswa sekolah di kaki gunung Rinjani



Beberapa waktu yang lalu, gw berkesempatan untuk mengenal lebih dekat beberapa penerima apresiasi Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards. Untuk yang belum kenal apa itu SATU Indonesia Awards, ini adalah penghargaan yang diberikan oleh PT Astra International Tbk sebagai bentuk apresiasi anak muda yang memberikan kontribusi positif kepada masyarakat dan lingkungan. 

Sejak tahun 2010, setiap tahunnya SATU Indonesia Awards memberikan apresiasi untuk masing-masing bidang seperti Pendidikan, Lingkungan, Kesehatan, Teknologi dan Ekonomi/Kewirausahaan. Hingga kini, sudah ada 32 sosok penerima apresiasi SATU Indonesia Awards yang terus dibina oleh Astra.

Keempat peraih SATU Indonesia Awards yang sempat gw temui kemarin di Lombok adalah Marwan Hakim, Maharani, Amilia Agustin dan Mansetus Kalimantan Balawala. Kenapa memilih Lombok, karena di sini tempat Marwan Hakim dan Maharani memberikan kontribusinya kepada masyarakat. Sedangkan Ami dan Pak Mans, mereka didatangkan dari Bali dan Flores untuk ikut melihat dan saling bersinergi dengan peraih SATU Indonesia Awards ini.

Tujuan pertama di Lombok adalah tempat Maharani pembibitan pohon Gaharu oleh Maharani (penerima SATU Indonesia Awards tahun 2014). Berlokasi di Lombok Timur, Maharani menyebarkan ilmu dan teknologi budidaya pohon Gaharu kepada petani setempat. Alasan dia, kenapa menanam pohon Gaharu, ini dilatar belakangi oleh kondisi tanah kering yang semakin rusak setiap tahunnya di NTB. Sedangkan pohon Gaharu, sangat cocok sekali di kondisi tanah yang seperti itu. Selain untuk menghijaukan NTB, pohon Gaharu juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Satu batang pohon Gaharu bisa bernilai hingga 50 juta bahkan lebih. Dengan masa panen yang singkat, 5-7 tahun, satu batang pohon Gaharu bisa dibeli senilai Rp 50 juta oleh para industri parfum dunia.

Saturday, December 05, 2015

Indosat Menjadi Indosat Ooredoo #IndonesiaDigitalNation



Mungkin ada yang bertanya, apa sih Indosat Ooredoo? Beberapa waktu yang lalu, bertepatan dengan ulang tahun ke-48, Indosat memperkenalkan logo dan nama baru. Indosat kini menjadi Indosat Ooredoo.


Ooredoo adalah perusahaan telekomunikasi berbasis di Qatar. Saat ini, Ooredoo memiliki mayoritas saham Indosat. Karena itulah nama Indosat saat ini menjadi Indosat Ooredoo.

Bersama Ooredoo, Indosat memasang target untuk membuka akses dunia digital yang lebih luas lagi untuk masyarakat  Indonesia. Seperti yang sudah kita ketahui, bahwa Indonesia adalah salah satu negara dengna jumlah pengguna aktif internet cukup besar. Indonesia juga adalah negara pengguna Facebook terbesat keempat di dunia. Terbesar ketiga sebagai negara pengguna twitter.



Perkembangan pengguna internet yang pesat inilah yang mendorong Indosat Ooredoo untuk terjun dan aktif memberikan akses konektivitas yang cepat. Dengan koneksi yang cepat, masyarakat luas bisa mengakses lebih banyak konten-konten yang mendukung kehidupannnya sehari-hari. Selain untuk mengakses konten-konten, dengan koneksi yang cepat, transaksi bisnis bisa lebih cepat dan murah. Ini akan lebih menguntungkan bagi mereka yang melakukan transaksi bisnis menggunakan internet.

Dalam rangka menyambut perubahan, Indosat Ooredoo mengajak kita semua untuk aktif berpartisipasi dalam #IndonesiaDigitalNation. Dengan memasang badge di foto profil kamu, sebagai bentuk rasa banggamu ikut serta dalam membangun Indonesia menjadi bangsa digital.

Ada beberapa digital facts challenge berhadiah yang bisa kamu ikuti. Juga ada potongan promo berbelanja yang bisa didapatkan di #IndonesiaDigitalNation. Tunggu apalagi!

Tuesday, November 17, 2015

Berbicara di Jogja. Digital Training For Destination In Indonesia


Minggu lalu, berkesempatan untuk sharing di Workshop Digital Training For Destination In Indonesia yang diselenggarakan oleh Kementrian Pariwisata bekerja sama dengan TripAdvisor. Peserta yang hadir sebagian besar adalah pelaku industri perhotelan dan penggiat pariwisata di Jogja. Di situ, kapasitas gw berbicara sebagai Travel Blogger. Memberi sedikit insight, pertimbangan apa bagi seorang pelancong ketika memutuskan untuk ke tujuan wisata tertentu. Dan bagaimana peran social media dalam mempromosikan pariwisata itu sendiri.

Dari sekitar 50 slide, yang isinya berupa foto-foto dan satu video, gw banyak bercerita tentang beberapa daerah yang mencoba menghidupkan pariwisatanya dengan menawarkan beberapa atraksi budayanya dan keindahan landscape alamnya. Dari foto-foto tersebut, gw ceritakan kembali seperti apa keadaan di sana dan bagaimana menuju ke sana. 



Sempat pula gw sampaikan kekhawatiran gw dengan kota Jogjakarta. Memang, Jogjakarta bisa dikatakan beruntung bila dibandingkan dengan kota-kota lain. Jogja sudah digariskan memiliki nilai histori yang lebih kaya dan menarik. Ambil contoh kecil saja seperti Borobudur, Prambanan dan Kraton Jogjakarta. Tanpa perlu promosi yang greget, semua orang sudah mengenalnya. Tapi, ini terkadang membuat zona nyaman bagi pelaku pariwisata dan orang Jogja khususnya. Zona nyaman yang membuat alpa dalam menjaga warisan budaya tersebut. Contoh yang gw ambil, batik dan membuat keris. Batik jogja memiliki banyak motif dan menarik dipelajari bagi wisatawan. Sebuah pengalaman tersendiri ketika wisatawan mempelajari bagaimana membatik. 


Membuat keris juga begitu. Tidak sembarang orang yang benar-benar mengerti cara membuat keris. Seperti Batik, Keris memiliki banyak pola garis atau lengkungan yang disebut dengan Pamor. Setiap Pamor dibuat dengan khusus dan seperti Batik, proses pembuatannya merupakan pengalaman yang mewah bagi wisatawan. Setidaknya, ini bisa menjadi atraksi budaya yang bisa menarik wisatawan dan juga menjaga kelestarian budaya kita.

Kekhawatiran ini gw sampaikan karena melihat Jogja yang sekarang lebih banyak Mall. Juga ketika beberapa waktu lalu mendengar Mpu Jiwo(Sang Mpu pembuat keris generasi ke-20 dari Majapahit, pernah gw tulis di blog ini) meninggal dunia. Gw ga tau siapa yang meneruskan Mpu Djiwo dalam membuat keris, karena memang benar-benar ngga semua orang mampu untuk membuat keris tersebut.

Hadir juga memberikan materi, Bapak Noviendi Makalam, asisten Deputi Pengembangan Komunikasi Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementrian Pariwisata RI. Beliau menyampaikan beberapa strategi Kementrian Pariwisata untuk mempromosikan Indonesia. Banyak hal menarik yang gw dapatkan dari paparannya. Tentang target wisatawan yang ditargetkan oleh Jokowi hingga beberapa daerah yang belum bisa rukun duduk satu meja untuk mempromosikan daerahnya.

Sedangkan Matthew Zato, Sales Manager Destination Marketing Southeast Asia TripAdvisor, lebih banyak berbicara tentang TripAdvisor. Data-data statistik dari pengakses TripAdvisor yang mencari tentang Indonesia. Perilaku pengakses TripAdvisor yang ingin berlibur ke Indonesia, mereka maunya apa saja, seperti apa hotel yang dicari dan atraksi apa. 

Itu sedikit cerita tentang Jogja beberapa waktu yang lalu. Seperti kebanyakan orang yang berkunjung ke Jogja, setiap sudut di Jogja memiliki kenangan tersendiri :)