Manis Sekali Membenturkannya

Berita hangat nasional awal minggu ini tak lain adalah insiden Monas. Sebuah insiden kekerasan yang kita semua tidak menginginkannya. Bahwa diberitakan telah terjadi penyerangan Front Pembela Islam (FPI) terhadap Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB).

Hemmm... semenjak insiden tersebut, ekses-ekses mulai bermunculan. Dari tingkat nasional, merosot ke tingkat daerah. Berbagai kecaman, pernyataan serta pembelaan diri bermunculan seiring dengan waktu. Dan rakyat kita masih tetap reaktif seperti biasanya. Dan menariknya, bila tak segera diwaspadai dan pemerintah tak segera mengambil keputusan(baik mengenai insiden ini serta latar belakangnya), yang habis ya kita juga. Warga indonesia, khususnya umat muslim.

Di Headline salah satu koran terkemuka dipampang foto munarman yang digambar sedang terlihat mencekik seorang anak muda. Kesannya angker. Serem dan sadis. Itu adalah kesan pertama yang akan muncul ketika melihat foto tersebut. Tapi tahukah kita apa yang sebenarnya terjadi? Dan siapakah anak muda tersebut yang terlihat sedang tercekik?

Sebelum ada klarifikasi dari FPI mengenai siapa orang yang dicekik tersebut, dari pihak AKKBB menunjukkan foto tersebut dalam konferensi persnya. Dan sempat mengklaim bahwa itu adalah orang dari pihaknya. Tapi yang terjadi sebaliknya, anak muda tersebut adalah bagian dari Laskar Islam. Dan bukan dicekik seperti kesan yang tertangkap dalam di foto, tetapi untuk memberi peringatan untuk tidak anarkis.

Dalam rekaman video yang ditayangkan berulang-ulang ditelevisi, sebenarnya kejadian ini terekam. Dan ini tidak dijelaskan kepada penonton. Kalau kita jeli dan teliti, akan terlihat munarman dari sisi depan kamera dan terlihat membelakangi. Peristiwanya berlangsung cepat. Ketika ada pemukulan, seseorang berbaju hitam muncul dan nampak memisahkan. Memang rekaman tersebut tak sejelas foto tadi. Tapi setidaknya kita bisa melihat secara luas apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya dari foto tadi.

Ini bukan membela salah satu pihak, mana yang benar dan mana yang salah. Cuma memikirkan dampak yang akan terjadi jika insiden seperti ini menjadi semacam provokasi di level masyarakat awam yang mana masih berpikir praktis. Yang ada, kita diadu. Habis. Kapan majunya? *Ah, saya ga mau ngeliat seperti ini dijaman anak saya ntar*

Hemmm... jika ini memang sengaja dibenturkan, coba deh dipikirkan, manis sekali membenturkannya bukan?

13 komentar:

Rita said...

Hhhhh gak tau mau ngomong apa...
Kalo liat dari gambarnya si ya gitu, tindak kekerasan (main hakim sendiri). Kalo untuk penyampain mungkin baiknya milih adegan lain yg tidak menimbulkan salah persepsi atau kesalahpahaman...
Kalau Tempo dalam waktu 1 x 24 jam tidak meminta maaf, Goenawan Mohamad tidak "sujud" kepada saya, saya serbu.
kata sujud, kalo bisa ganti dengan kata2 lain yg lebih dewasa, tidak memancing kesalahpahaman ....
(citra baik, mudah diterima)

Persoalan, kalau terjadi kesalahpahaman yg melibatkan massa biasanya sulit untuk di luruskan, butuh waktu, sehingga kemngkinan terburuk bisa saja terjadi....
Damai tentram makin menjauh..
(ini juga tergantung niat awalnya. kalo awalnya mencari kedamaian berarti jauh dari sukses dong)

pank said...

klo gw sech.. ikut nico aj.. soal nico memiliki kmampuan investigasi mutakhir... melihat kasus2 yg pernah d tangani... kredibel lahhhh.... *bayarin gw coo, dh promosi... teng tooong....

nico wijaya said...

@rita: yep. Setuju. Btw, mari kita liat sensasi2 berikutnyaa*pantengin tipi*

@pank: aseem! Woi2 urusin tuh wimaxnya!:D

cewektulen said...

males liat....tipi, beritanya itu2 saja..,memperlihatkan orang-orang yang "berjuang" dengan membonceng merk tertentu..ndak berani sendiri. apa namanya klo bukan pengecut????

ketela said...

iya ya, kok banyak orang yg pada berantem sih

imgar said...

walah-walah..

Amel said...

Sempet geleng2 kpala siy, yah Ambil hikmahnya aj bwt diriku sndiri..

+Dee+..what else? said...

hoek gw bneci provokasii..sball.. tapi gw jg ga suka FPI. gimana dunk?

anggangelina said...

manis ga ya? *mikir* apanya yg manis sih?

jomblo sesaat (catat: bukan 'sesat'!) said...

Abis ngebahas ini sama 2 orang nun jauh di ujung dunia dan kami sepakat sama Nico, manissss sekali.
Ck-ck-ck... pinter kali "mereka" mengambil kesempatan.

Tapi tak peduli siapa membonceng siapa, kekerasan terbukti bukan pilihan terbaik. Dan kekerasan bukan cuman kekerasan fisik alias gontok2an, tapi juga kekerasan verbal.
Kata-kata kotor banyak banget diumbar kemarin itu.
Mendingan menahan diri (sepertiku, huuuuuuuu...).

Jangan sampai terpancing, jangan sampai terjaring!

aLix wiJaya said...

hmm., sepeka itu km mengartikannya nic,
Keren2 mm orng di negeri ini
Entah abis ini akan ada apa (lagi) disela2 carut marut kndisi bangsa endonesah tercintah.,

Yolla Elwyn said...

saya jd suka males kl disuruh nyeritain tentang indonesia disini..apanya yg musti diceritain, isinya cuman ribut melulu..

Republik Gaptek said...

Anarkis..anarkis..anarkis..capek sayah melihatnya

Post a Comment