Mbah Djiwo, Sang Mpu Keris


Kemarin, saya merasa beruntung karena ketemu dengan seorang pembuat keris di Indonesia, bahkan dunia. Mbah Djiwo, sosok yang berusia 73 tahun ini merupakan Mpu generasi Ke 20 dari Kerajaan Majapahit.

Orangnya ramah. Itu yang saya tangkap dari Mbah Djiwo ketika pertama kali berjumpa. Beliau ini sangat disegani di dunia benda pusaka khususnya keris. Saya masih ingat bagaimana hangatnya Mbah Jiwo mempersilahkan saya, Antobilang dan Gage untuk masuk ke rumah yang berarsitektur joglo di Desa Banyusumurup, Bantul.

Mumpung bertemu dengan orang yang ahli membuat Keris, kami banyak bertanya. Dan Mbah Jiwo pun senang menjawab segala pertanyaan kami yang dibuat terkagum-kagum dengan peninggalan budaya indonesia ini, Keris.

Membuat Keris bagi seorang Mpu adalah sebuah laku ritual, inilah menurut anggapan saya. Kompleks. Banyak hal yang diperhitungkan. Dan semuanya menarik! Saya kagum dengan bagaimana Pamor itu dibuat. Sedikit info, Pamor itu sederhananya adalah semacam batiknya di kain batik tulis. Awalnya, saya berpikir Pamor ini dibuat dengan cara diukir. Ternyata ngga. Proses pembuatannya ngga semudah diukir, tapi dari hasil lipatan-lipatan dan tempaan. Dibutuhkan ketelitian yang sangat, itu yang saya tahu. Dan disinilah salah satu letak spesialnya, hanya si Pembuat Keris yang bisa membuat pamor ini. Padahal ada ratusan jenis Pamor dan Sang Mpu itu bisa membuat Pamor yang sama persis misalnya kita memesan 2 keris dengan pamor yang sama. Sungguh, keris yang dihasilkan sangat cantik!

Sayangnya, semenjak gempa Jogja, Mbah Djiwo belum membuat Keris kembali karena belum adanya pesanan. Dan stok Keris bikinannya pun masih banyak terpajang di galeri sederhana di Rumahnya. Padahal niatan kami bertiga kesana adalah ingin memotret bagaimana sang Empu sedang membuat Keris. Tapi ngga apa, sudah banyak informasi yang kami dapatkan mengenai Keris dari Sang Mpu. Sehingga ketika saya terkagum-kagum mendengarkan Mbah Djiwo menjelaskan bagaimana membuat pamor, saya sempat berceletuk, "wow... saya ngga rela mbah kalo Keris ini diakui oleh bangsa lain..."

Postingan yang melengkapi,
Adiluhung, Antobilang.
Generasi ke 20, Gage Batubara  

Foto: Antobilang.

Comments

  1. ada yg nanya gak, keris2 yg ada isinya itu gimana ceritanya...
    konon ga semua orang cocok dg kerisnya... kadang keris memilih sendiri tuan-nya...

    ada yg nanyain gak, itu keris empu gandring yg dipake ken arok utk membunuh tunggul ametung, di mana skrg?

    ReplyDelete
  2. kamu harusnya beruntung nic....
    bisa kenal ama yg jual keris..hahahhahah

    ReplyDelete
  3. hummmm....jadi penasaran aku nic, pengen liat langsung gimana ya beliau membuat pamornya n_n

    ReplyDelete
  4. @memeth: kemaren gage nanya gimana ngisinya. seingetku ada laku ritualnya, spt puasa dan itung2an weton si pemesan. Laku itu dimulai dari awal pembuatan keris, spt sehari hanya 2 jam mengerjakan keris. lalu tidak berbicara ketika mengerjakannnya, dan pengerjaannya hanya hari2 tertentu.

    yg mpu gandring ngga nanya med...

    @escoret: eh peng, kemaren ditawarin nginep tempatnya Mbah Djiwo, besok-besok kl nginep sana mau ikut ngga? :D

    @wul: ngeliatnya harus sabar lan, prosesnya ngga sekali 2 kali.

    ReplyDelete
  5. saya tau tentang keris dari Mas Ucup. hehe.
    teringat hujan badai kami paksakan ke Solo demi Keris. hihihi *lebay.

    kenalkan Beliau ma mas Ucup nic! ^^

    ReplyDelete
  6. Spot ini yang kemaren kaka missed waktu ke Jogja ngaterin temen2 fotografer Bali itu Nic, nggak sempet banget! duh nyesel euy...

    Kaka yang orang Jogja aja belun pernah kesana, Desa ini ya deket Terminal Giwangan itu kan Nic, kaka pulang besok temenin kesana ya?

    ReplyDelete
  7. selamat ya dah memang menang kontes

    ReplyDelete
  8. blogwalking sesama finalis coo :p

    tulisannya kamu bagus2 dan bermanfaat :D

    ReplyDelete
  9. @ivan batara: kayaknya udah kenal van, kemaren sempet kutanya :D

    @sakti soediro: iya, terminal giwangan luruuuus aja :D

    @arista: kontes mana nih? Microsoft bloggership masih finalis :D

    @ridu: makasih du, tulisan mu juga kok... :D

    ReplyDelete
  10. Tak bisa berkata apa-apa liat semangatnya mbah Jiwo membuat keris

    ReplyDelete
  11. mantap! tulisane mencerahkan!

    ReplyDelete
  12. thank you so much for this very informative post – i was under the impression that most worthwhile plugins had to be paid for, but now i can see that is not the case — keep up the gd work in informing the public!

    ReplyDelete
  13. This is such a great post to read. Stimulating me to read much more of your posts. Keep up the good work. Hoping to see a lot more excellent posts from you shortly.

    ReplyDelete

Post a Comment