Behind The Scene 3 Srikandi



Ketika jaman kuliah dulu, gw pernah punya keinginan untuk belajar perfilman. Rencananya ambil beasiswa di Paris. Waktu terus berjalan, gw kerja dan akhirnya keasyikan untuk kerja dan semangat untuk mencari beasiswa di Paris memudar. 

Meskipun gw sadar bahwa semangat untuk mencari beasiswa itu memudar, satu hal yg pernah gw ikrarkan adalah suatu saat nanti, nama gw ada di credit tittle bioskop. Ya, pernah beberapa tahun yg lalu gw twitkan keinginan ini. Gw ga mikir seperti apa caranya hingga nama gw bisa sampai ada di credit tittle, tapi yang jelas di bayangan gw adalah gw ikut dalam suatu produksi film layar lebar.

Sembari menunggu ada kesempatan itu datang, gw mencoba-coba bermain diproduksi video untuk channel Youtubenya Fotografer.net. Dari situ, selain video-video yg digunakan untuk promosi event FN, juga sempat membuat film profilnya kesatuan Yon 900 Raider dan Yon 600 Raider yang dipertunjukkan untuk internal masing-masing kesatuan.



Hingga akhirnya, Mas Iman mengajak gw untuk ikut terlibat di film perdananya. Tawaran ini langsung gw iyakan. Tetapi sempat terjadi pergolakan, karena ketika gw memilih untuk ikut terlibat di film, gw harus resign dari pekerjaan gw. Memang dulunya sempat gw utarakan untuk ingin ikut belajar penyutradaraan ketika Mas Iman mendirect suatu TVC. Hanya saja waktu syuting untuk TVC yang tidak sesuai dengan hari kerja sehingga keinginan ini belum terlaksana. Dan ketika gw akhirnya mengiyakan untuk ikut terlibat di dalam film ini, gw yakinkan kalo ngga sekarang kapan lagi.



Di film 3 Srikandi, gw terlibat sebagai asistennya Mas Iman Brotoseno, sutradara film 3 Srikandi. Kerjaan gue mengerjakan sesuatu yang dibutuhkan oleh Sutradara dan mendukung departemen penyutradaraan. Baik mulai dari persiapan, syuting dan promo(set up sosial media asset 3 srikandi dan website sejak awal persiapan film). 
Ini kesempatan besar bagi gw untuk belajar penyutradaraan, yang mana tidak semua orang bisa mendapat kesempatan ini.


Dengan ‘melekat’ ke sutradara, gw bisa belajar bagaimana seorang sutradara melakukan pengenalan karakter ke pemain. Meyakinkan  dan memberikan imajinasi seperti apa karakter dan film ini nantinya. Gw melihat Mas Iman cukup detail untuk ini. Tak hanya sekadar memberikan pengarahan, Mas Iman juga mengumpulkan referensi-referensi audio visual yang ditunjukkannya ke pemain. Dengan ini, pemain dan produser semakin jelas seperti apa maunya seorang sutradara dan ‘rupa’ dari film itu sendiri. Dari ‘melekat’ ke sutradara inilah, gw tau apa yang dimau oleh sutradara. Sehingga ketika pemain bertanya sesuatu, misal ketika latihan memanah atau pendalaman akting, gw bisa ikut menjelaskan. Meskipun itu di luar tanggung jawab gw, tapi setidaknya gw ikut memberikan solusi ketika sutradara sedang tidak ada di tempat.



Secara langsung gw disuruh Mas Iman untuk ikut membedah naskah. Adegan ini lokasinya di mana, propertinya apa saja, waktunya kapan, apakah ada keterkaitan dengan scene sebelumnya dll. Menyiapkan materi foto yang digunakan dalam adegan. Menyiapkan storyboard dari yang telah dibuat oleh storyboard artist ke sutradara. 

Referensi lokasi dan adegan.
Dengan nyebur secara langsung seperti ini, gw bisa membayangkan film ini bentuknya seperti apa dari sejak masa persiapan. Sehingga ketika proses syuting berlangsung, gw bisa ikut menjelaskan ke rekan-rekan satu produksi, ngga blank plonga plongo di lokasi.



Untuk film ini, gw mulai masuk sejak Mei 2015. Dua bulan persiapan, recce(mencari lokasi syuting), latihan acting pemain, reading dan latihan panahan. Adapun syutingnya berlangsung hampir 35 hari dengan berpindah-pindah lokasi di Jakarta, Sukabumi, Cianjur dan Ujung Genteng. Dan tambahan lokasi Jogja, untuk second unit mengambil adegan-adegan montage. 

Second unit. Montage. Lokasi Jogja.
Crew Second Unit.


Setelah selesai syuting, gw masih terlibat untuk post pro. Menyiapkan materi seperti arsip-arsip koran(digital) yang akan masuk di layar. Materi-materi ini berupa desain koran dengan bentuk lama dan berita yang gw karang sendiri :)) (tapi untuk berita utamanya yg dihighligt, ada kesesuaian dengan kenyataan).

Semua kerja keras beberapa bulan ini terbayar ketika melihat film secara utuh di gala premiere. Melihat reaksi penonton yang terkadang tertawa terbahak-bahak, lalu ikut tegang, sedih hingga merasa bangga karena terbawa suasana, ini tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Syukurnya, penonton merasa senang akan film ini. Responnya positif. Bahkan ada banyak bioskop yang mengantri dan tidak kebagian tiket untuk menonton film ini.




Selamat buat Mas Iman untuk debut film layar lebar perdananya. 
Dan selamat menikmati film tentang perjuangan atlet untuk memberikan prestasi terbaiknya kepada bangsa dan negara.

Ayo ke bioskop!






Comments

  1. Keren Niiic. Sedikit lagi cita-citamu jadi sutradara tercapai. Semangat!

    ReplyDelete
  2. wihhh seru bgt bs lihat lsg proses syutingnya

    ReplyDelete

Post a Comment